history-of-al-quran.jpg

Tuduhan Al-Qur’an Palsu yang Serampangan

Diposting pada
Ilustrasi

Ada yang bertanya kepada saya tentang postingan di WA( yang isinya saya screen shoot di bawah ini) sangat provokatif dan kelihatan belum move on juga dari kasus Pilkada DKI 2017 kemarin yang mempermasalahkan terjemahan Q.S. al-Maidah ayat 51 yang menterjemahkan kata awliya’ dengan teman setia. Bodohnya lagi golongan Kadrun menganggap al-Qur’an yang menterjemahkan kata tersebut dengan teman setia dinilai sebagai al-Qur’an Nusantara yang palsu. Astaghfirullahal ‘azhiim.

Jelas sekali kalau penulis postingan dan para penuduh di atas adalah orang-orang bodoh. Mereka tidak paham tafsir dan bahasa Arab. Pada semua kamus bahasa Arab baik terbitan Timur Tengah maupun terbitan dalam negeri, dijelaskan bahwa kata awliya’ (bentuk jama’ dari wali) itu artinya bermacam-macam, bisa dimaksudkan pengurus, pelindung, kekasih, teman setia, atau pemimpin. Tidak boleh dimonotafsirkan dengan 1 makna saja, seperti hanya dimaknakan “pemimpin”. Ini salah besar dan menyalahi kaedah bahasa Arab itu sendiri. Jadi boleh saja dimaknakan dengan teman setia.

Dari perspektif ilmu Ushul fiqh dikenal juga qiyas awlawi (mempersamakan dengan makna yang lebih unggul). Jadi kalau orang kafir tidak boleh dijadikan teman setia, apalagi kalau dijadikan pemimpin, lebih tidak boleh.

Baca Juga :  Listyo Sigit Kapolri Baru, DPR: Terima Kasih Jenderal Idham Azis

Alhasil, yang nulis postingan WA tersebut orang bodoh yang bermaksud memprovokasi juga. Maka hendaknya kita lebih selektif lagi dan cerdas dalam menimbang suatu berita. Haturnuhun.

Sumber: K.H Cep Herry Syarifuddin

(Warta Batavia)




SebelumnyaMenag Gus Yaqut Evaluasi Penyelenggaraan Umrah Pasca Penutupan Arab Saudi

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *