Alissa-Wahid-696x486.png

Viral! Siswi Non Muslim Dipaksa Pakai Jilbab, Alissa Wahid Buka Suara

Diposting pada
Koordinator Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid. /Instagram @alissa_wahid

Koordinator Jaringan Gusdurian, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahida atau akrab disapa Alissa Wahid turut angkat bicara terkait viralnya sebuah video seorang siswi non muslim yang dipaksa memakai jilbab oleh pihak sekolah SMKN di Padang, Sumatera Barat.

Menurut Alissa Wahid, Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) harus lebih kuat menegaskan bahwa ekosistem pendidikan milik negara tidak memaksakan jilbab untuk murid non muslim dan bahkan muslimah sekalipun.

“Sebaliknya, juga tidak boleh melarang penggunaan jilbab bagi yang menginginkannya,” kata Alissa Wahid melalui cuitan Twitter @AlissaWahid, Jumat, 22 Januari 2021.

Alissa Wahid menuturkan, tanpa penegasan dari Kemendikbud, para pengelola sekolah akan terus menggunakan tafsir yang berbeda-beda.

“Dan bila pengelola sekolahnya meyakini mayoritarianisme sekaligus klaim kebenaran mutlak, maka akan ada potensi aturan pakaian yang melanggar hak konstitusi warga yang menjadi korban,” kata Alissa Wahid.

Menurut Alissa Wahid, sekolah milik negara di wilayah mayoritas muslim, tidak bisa mengatas namakan untuk menghormati mayoritas lalu memaksa muridnya berjilbab.

Hal demikian juga berlaku bagi sekolah di wilayah mayoritas non muslim.

Baca Juga :  Kapolri Safari ke Ormas Islam, Kompolnas: Pererat Silaturahmi-Kerukunan

“Sekolah di wilayah mayoritas non muslim, tidak boleh memaksa murid melepas jilbab. Hak warga atas pendidikan tidak dibatasi oleh pakaiannya,” ujar Alissa Wahid.

Putri sulung Gusdur itu menilai, penegasan dari Kemendikbud sangat penting sekali, dan bahkan bisa dibilang belum cukup, perlu juga diikuti dua upaya.

Pertama, memperkuat perspektif konstitusi kepada insan-insan pendidikan, sekaligus memperkuat perspektif peran sebagai ASN yang harus selalu pakai kacamata wakil negara.

Kedua, memperkuat kembali praktik beragama di Indonesia yang menghargai keberagaman keyakinan, dan jauh dari sikap klaim kebenaran ajaran yang diyakininya.

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *