kabag-penum-divisi-humas-polri-kombes-ahmad-ramadhan_169.jpeg

Virtual Police Juga Tegur Akun WhatsApp, Polisi Pastikan Bukan Disadap

Diposting pada

Polisi virtual mengomeli 89 akun media sosial yang diduga melakukan ujaran kebencian, termasuk akun WhatsApp. Mabes Polri memastikan polisi virtual yang dijalankan oleh Direktorat Cybercrime (Dittipidsiber), Bareskrim tidak akan menyadap akun WhatsApp siapa pun.

“Jangan repot-repot. Ini yang kita pantau, jadi tidak ada yang menguping. Tujuan kita adalah memberikan edukasi, peringatan kepada akun-akun yang membuat ujaran kebencian. Kita tidak menargetkan, ini dia. Tujuan? Untuk memberikan edukasi Warning. Lakukan jangan sampai postingan ini berpotensi menjadi tindak pidana bagi yang mempublikasikannya. Dan tentu efeknya itulah yang kita cegah, “kata Kepala Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, kepada kantor berita nasional. reporter polisi. Markas Besar, Jakarta Selatan, Jumat (12/3/2021).

Ramadhan menjelaskan, akun WhatsApp tersebut ditegur oleh polisi virtual karena ada yang melaporkannya. Untuk melakukan ini, ambil tangkapan layar dari pos status WhatsApp. Selanjutnya, polisi virtual memantau akun tersebut.

“Grup WA bisa melakukannya. Ini berarti, misalnya, ini hanyalah satu contoh. Mereka ada di grup, lalu beberapa melapor ke polisi, mengambil screenshot. Kemudian akunnya dilacak, ”jelasnya.

Baca Juga :  Alhamdullilah! Polisi akan Kejar Penyebar Video Hoax Jaksa Terima Suap Sidang Rizieq

Ramadan memperingatkan masyarakat untuk tidak menganggap beberapa media sosial aman dari pemantauan polisi virtual untuk ujaran kebencian, termasuk WhatsApp.

“Iya prinsipnya polisi maya itu peringatkan akun-akun itu. Apa pun bentuk platformnya, mohon jangan anggap WhatsApp aman buat kami, tidak. Artinya kami bilang apa saja bisa terpengaruh,” kata Ramadhan.

“Jangan kira, ah, kalau kita memfitnah orang, kita menyebarkan kebencian, menggunakan platform tertentu itu aman. Tidak,” ujarnya.

Sebelumnya, polisi telah menyiarkan perkembangan polisi virtual. Kepala Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengungkapkan, ada 89 akun media sosial (medsos) yang memberitakan menyiarkan ujaran kebencian.

Berdasarkan data Virtual Police Alert yang dihimpun oleh Direktorat Investigasi Cybercrime Polisi periode 23 Februari hingga 11 Maret 2021, terlihat bahwa 125 konten yang dikirimkan untuk menerima peringatan virtual polisi. Dari 125 isinya, 89 dinyatakan lulus. Ujaran kebencian, begitu memuaskan elemennya. Sedangkan 36 konten tidak memenuhi syarat, artinya tidak mengarah pada ujaran kebencian, ”kata Ramadhan kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (12/3).

Baca Juga :  Pesta Sabu, Kompol Yuni dan Belasan Polisi Bandung Ditangkap

Selain itu, Ramadan mengatakan sebagian besar akun yang membuat perkataan yang mendorong kebencian ada di Twitter. Ada 79 konten di Twitter yang mengklaim memposting perkataan yang mendorong kebencian.

“Selama periode ini, 125 konten yang dikirimkan untuk peringatan polisi virtual didominasi oleh jenis platform. Twitter paling banyak, atau 79 konten. Jadi Facebook punya 32 konten, Instagram 8, YouTube 5, dan WhatsApp 1. Jadi kebanyakan lewat Twitter, ”ucapnya. [detik.com]

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *