TGB-696x364.jpg

Wahabi Salafi Pintu Masuk Terorisme, TGB Dukung Ketum PBNU

Diposting pada

TGB mendukung deklarasi Kiai Said, Wahabi Salafi masuk ke terorisme. Ketua Nahdlatul Wathan Tuan Guru Bajang (TGB) H. Zainul Mazdi menanggapi pernyataan Ketua Dewan Pengurus Nahdlatul Ulama (PBNU) yang menyebut ajaran Wahabi Salafi sebagai pintu masuk terorisme.

Sebelumnya, ia mengungkapkan rasa syukurnya karena selama ini pelaksanaan rangkaian sholat dari saudara-saudari non-muslim telah berjalan dengan baik. Ia berharap hal ini akan berlangsung selamanya, di setiap kesempatan dan dalam pertemuan akan selalu ada nilai-nilai kebaikan dan kedamaian untuk semua.

Terkait klaim Kiai Said, TGB meyakini bahwa ini adalah bentuk kecemasan bahwa ada akar pemikiran yang melandasi sikap ekstrim yang pada akhirnya berujung pada terorisme.

Ia setuju dengan pernyataan Kiai Said, karena setahu Wahabi Salafi memiliki aspek pemikiran yang agak ekstrim, juga menimbulkan banyak perlawanan di hampir semua negara Islam, bahkan ketika itu tersebar luas di Indonesia.

Jalan masuk Wahhabi Salafi ke terorisme?

Fakta Masuknya Wahhabi Salafi ke Terorisme

Oleh karena itu, ungkapan Kiai Said, menurut TGB, merupakan cerminan dari kurun waktu yang lama, di mana pemikiran Wahabi Salafi memiliki sisi ekstrim yang menimbulkan gesekan di masyarakat. Tidak hanya antara Muslim dan non-Muslim, bahkan lebih sulit lagi di kalangan Muslim.

“Saya kira ini sebagai reminder, peringatan, bahkan refleksi dan juga untuk kita sebagai bahan untuk perbaikan kedepannya,” terangnya.

Apa yang ditransmisikan Kiai Said menggambarkannya, meskipun menyederhanakan dan merangkumnya, tetapi menggambarkan garis pemikiran yang bisa dan sering terjadi, bagi seseorang yang meyakini pemikiran Wahhabi Salafi jika mengambil bentuk yang ekstrim.

Sehingga melahirkan ekstremisme agama dan kemudian melabeli segala sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang harus ditolak. Ekstremisme inilah yang menjadikan Wahhabi Salafi sebagai pintu masuk terorisme.

Jika menyangkut peraturan pemerintah, misalnya semua produk yang dianggap tidak berasal langsung dari Alquran dan Hadis dianggap bid’ah, dianggap produk hukum yang ingin bersaing dengan hukum Allah, maka harus ditentang.

Hal inilah yang menurut TGB kerap menimbulkan gelombang kekerasan di negara Indonesia. “Kita sepakat, Pancasila, pada hakikatnya sangat sejalan dengan tokoh agama,” kata TGB.

Ditegaskannya, menyikapi fakta ini juga menjadi tugas para ulama, kiai muda berpandangan Aswaja, lahir dari rahim ormas kuat di Indonesia, seperti NU, Muhammadiyyah. Bergabunglah dengan kelompok milenial untuk mempresentasikan Islam, hadirkan pandangan Islam sesuai pandangan mereka.

Sekte Wahabi Salafite Mengajar Pintu Masuk Terorisme

Dalam siaran tele-talk di akun Youtube TGB Lil Wathan, TGB Zainudin kembali menjelaskan apa yang disiarkan oleh Kiai Said. Menurutnya, siaran Kiai Said bukan hanya Wahabi, tapi Wahabi Salafi.

Wahabi Salafi lebih mengacu pada pemikiran, pada doktrin agama yang memang merupakan salah satu teori terkuat, seperti teori Hakimiyyah, teori ini berarti bahwa otoritas hukum hanya milik Allah.

Dengan teori ini, kelompok Salafi Wahhabi memaknai bahwa setiap produk hukum yang dibuat oleh manusia tidak boleh diikuti karena berarti bersaing dengan otoritas Allah. Karenanya, Kiai Said ingin menekankan model penalaran ini.

Pemikiran politik yang muncul dari pandangan ekstrim tersebut seringkali melahirkan gelombang ekstrim maupun gelombang terorisme. Jadi bila diperkuat dalam konteks saat ini, itu mungkin, dan sering terjadi. Mereka melihat bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki sistem hukum yang dianggap menyaingi otoritas Tuhan karena diciptakan oleh manusia.

“Ini yang Kiai sampaikan, jadi yang ingin kami sampaikan bukan Salafi, tapi Salafi Wahhabi, apalagi kalau dalam ranah pemikiran politik terkait negara bangsa, konstitusi, undang-undang yang sudah kita sepakati. .. Together “, telah menjelaskan.

Untuk menghindari kesalahpahaman apa yang dikomunikasikan oleh Ketua Umum PBNU KH. Aqil Siroj mengatakan TGB mengimbau masyarakat untuk mengikuti sepenuhnya pernyataannya. Ke depan, ungkapan keinginannya ini juga harus ditularkan kepada masyarakat karena kita sadar bahwa perbuatannya lahir dari iman dan pikiran. “Selama keyakinan dan pikiran itu salah, tindakan mereka juga salah,” ujarnya

“Saya kira jika kita mengikuti sepenuhnya pernyataannya tidak akan ada kesalahpahaman, karena dia tidak mengatakan salafi tetapi salafi Wahhabi, terutama yang terkait dengan pemikiran politiknya, terkait dengan teori mereka bahwa hal itu dapat menimbulkan tindakan ekstrim di masyarakat,” lanjutnya. .

Di bidang fiqh, lanjut TGB, salafi adalah fiqh pada Madzab Imam Ahmad bin Hanbal, santri Imam Syafi’i yang kerap mempertanyakan soal keimanan. Dalam bersedekah, Wahhabi Salafi memiliki pandangan yang sangat ekstrim, terutama tentang kekuasaan Allah SWT dalam menentukan supremasi hukum.

Apa pun yang muncul dari produk manusia, disengaja atau tidak, sering diartikan sebagai persamaan otoritas Tuhan.Untuk itulah mereka melawan, melarang demokrasi, kemudian melarang negara bangsa, pemimpin yang terpilih secara demokratis yang sering disebut thoghut dan sebagainya. .

Aspek yang perlu ditekankan ini bukanlah masalah fiqh, karena fiqh salafi bersumber dari empat mazhab, terangnya.

Apakah kafir diperbolehkan?

TGB Zainudin menjelaskan bahwa ada kafir dalam agama, namun ini termasuk dalam parameter yang sangat ketat. Istilah tidak boleh satu persen dari 100 persen masih diragukan, jadi mutlak.

Namun jika perbedaan pendapat tentang hal-hal yang tidak bersifat religius, seperti perbedaan detail pada beberapa ritual, tidak dapat dijadikan dasar untuk mengingatkan bahwa orang lain akan meninggalkan Islam.

Bahkan jika kita melihat bagaimana Islam memandang perbedaan pendapat dan pandangan, orang yang berbeda agama kita juga tidak boleh dijadikan dasar untuk melakukan kekerasan terhadap mereka. Ini adalah parameter yang sangat ketat, dimana kita tidak boleh mempercayai siapapun selama kiblatnya selalu sama yaitu Ka’bah.

“Jadi perbedaan dalam memahami masalah sosial, sistem politik dan lainnya sama sekali tidak bisa menjadi dasar untuk ketidakpercayaan dan untuk melihat orang lain sebagai bidah,” kata TGB.

Terakhir, TGB juga mengingatkan masyarakat untuk menyortir dan menyeleksi guru. Guru yang tidak hanya menghafal Alquran dan hadits, tapi juga cerdas dalam memecahkan masalah keislaman. Karena agama adalah gurumu.

“Saya katakan bahwa agama adalah siapa gurumu. Agama kami dan cara kami beragama adalah apa yang menjadi guru kami. Jadi, kami telah menemukan guru yang kompeten, yang memiliki pemahaman lengkap, tidak hanya menghafal Alquran dan hadits, tetapi mereka juga memiliki pemahaman yang lengkap tentang suatu masalah dalam Islam, ”pungkasnya. (fqh)

TGB mendukung deklarasi Kiai Said, Wahabi Salafi masuk ke terorisme

Sumber: https://dakwahnu.id/tgb-dukung-perresi-kiai-said-wahabi-salafi-pintu-masuk-terorisme/

Wahhabi Salafi Masuk Terorisme, TGB Dukung Ketua PBNU (Warta Batavia)

link sumber

Baca Juga :  AHY Datangi Kemenkum HAM, Bawa Bukti KLB Deli Serdang Ilegal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *