Waktu Khalifah Umar Mengkhawatirkan Gereja Jadi Masjid – Aspiratif News

Waktu Khalifah Umar Mengkhawatirkan Gereja Jadi Masjid - Warta Batavia
Views: 1290
Read Time:3 Minute, 9 Second

Waktu Khalifah Umar Mengkhawatirkan Gereja Jadi Masjid – Aspiratif News

Panglima-panglima Khalifah Umar bin Khattab berhasil merebut negeri Palestina tepatnya di Kota Yerusalem pada 636 Masehi dari Heraklitus, Raja imperium besar Romawi Timur. Waktu itu proses seterusnya ialah perjanjian serah terima dari Romawi Timur ke ummat Islam.

Panglima Romawi dan Patriarch (Uskup Agung) Sophronius meminta agar perjanjian pemberian Kota Yerusalem itu diteken langsung oleh Khalifah Umar bin Khattab. Awalnya, permintaan tersebut ditolak oleh Panglima Abu Ubaidillah bin Jarrah dan Panglima Khalid bin Walid beserta Serdadu Muslim. Akan tetapi, dengan kebijaksanaannya, Khalifah Umar bin Khattab Setuju permintaan tersebut.

setelah selesai penandatanganan perjanjian pemberian Kota Yerusalem, tibalah waktu shalat dzuhur. KH Saifuddin Zuhri dalam memoarnya Berangkat dari Pesantren (2013) mecatat bahwa Patriarch Sophronius menawarkan ke Khalifah Umar bin Khattab untuk menunaikan shalat di Gereja Sepulchre. Gereja tersebut Ialah tempat paling suci dalam pandangan orang-orang Kristen Romawi.

Tetapi Khalifah Umar tidak berkenan dan menyampaikan penolakan dengan halus. Umar bin Khattab berkata, “Kalau saya shalat di situ, dikhawatirkan di lalu hari ummat Islam merampas gereja Tuan untuk dijadikan masjid.” (KH Saifuddin Zuhri, 2013: 689)

READ  Melempar Jumrah, Menag Pilih Sore Hari

Sikap penolakan Khalifah Umar bukan ditujukan pada problem tempat shalat, melainkan ia memikirkan hal yang lebih besar dan maslahat, yaitu agar gereja tersebut tidak dirampas untuk dijadikan masjid karena argumentasi pemimpin besar ummat Islam pernah melaksanakan shalat di tempat itu. Khalifah Umar patut memikirkan hal tersebut karena hubungan antar-agama wajib tetap baik di tengah suasana konflik waktu itu.

Masalah sosok Khalifah Umar bin Khattab, sejarawan muslim, Muhammad Husain Haekal memberikan kesaksian. Haekal berkata, “Dialah Umar ibn al-Khaththâb, lelaki agung yang namanya semerbak harum dalam sejarah besar ummat Nabi Muhammad. Umar ialah sahabat Rasulullah yang paling cemerlang, sang inspirator ummat Islam, hamba yang takwa ke Rabb-nya.” (Muhammad Husain Haekal, Umar bin Khattab, 2016)

Umar bin Khattab ialah sosok besar yang menata sejarah besar. Di tangan seorang khalifah Umar, Islam telah menjelma ‘imperium’ adiluhung dalam tempo waktu yang tidak lebih dari sepuluh tahun, yang sanggup menaklukkan negeri-negeri legendaris, meruntuhkan imperium agung Persia, juga mengguncang keberadaan imperium masyhur Bizantium.

READ  Analis Ungkap Maksud Dibalik Provokasi Kapal Perang AS di Teluk Persia - Aspiratif News

Islam pun pada akhirnya mempunyai wilayah kekuasaan yang membentang luas mulai dari Cerynecia (Tripoliana), Mesir, Nubia, Levantina atau Mediterania Timur (Syam; sekarang wilayahnya meliputi Syria, Lebanon, Yordania, dan Palestina), Anatolia, sampai Persia.

Sebab itulah, sosok Umar kerap disebut sebagai seorang ‘Kaisar’ yang setara dengan Alexander Agung, Kaisar Macedonia, dan Cyrus The Great, Kaisar Persia, 2 emperor besar dunia pada zamannya, yang kebesaran serta kekuasaannya malang melintang di seantero jagat.

Akan tetapi sedemikian, jangan pernah membayangkan jika kehidupan Umar layaknya para Kaisar pada umumnya, sebuah potret kehidupan yang bergelimang duniawi sebagaimana yang diceritakan oleh epik-epik sejarah.

Umar tetap hidup sederhana dan bersahaja, waktu takwa ialah cita-cita Intinya, waktu Allah jauh lebih ia cintai dari segala isi dunia, waktu Rasulullah ialah teladan abadinya, dan waktu kebahagiaan, dan kesejahteraan rakyat banyak ialah impiannya.

Hati dan akhlak Umar jauh lebih besar dari nama besarnya, jauh lebih luas dari wilayah kekuasaan dan taklukan-taklukannya, jauh lebih mulia dari kemuliaan yang diberikan orang-orang kepadanya. Hal ini bukan karena apa-apa, tetapi karena Umar lebih mengedepankan ketakwaan di atas segalanya.

READ  Tingkatkan Daya Saing, IAIN Pontianak Gelar Ragam Seminar Virtual - Aspiratif News

Bagi Umar bin Khattab, ketakwaan ini bukan cuma mempertebal keshalihan vertikal ke Allah, tetapi juga keshalihan sosial ke rakyat yang dipimpinnya, apapun suku, agama, dan kelompoknya. Tenggang rasa untuk seluruh rakyatnya bagi Umar Ialah usaha mewujudkan ketakwaan ke Allah.

Penulis: Fathoni Ahmad

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/121600/saat-khalifah-umar-mengkhawatirkan-gereja-menjadi-masjid

(Suara Islam)


Waktu Khalifah Umar Mengkhawatirkan Gereja Jadi Masjid – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *