Waktu Rasulullah Maafkan Sahabat yang Berkhianat dalam Fathu Makkah – Aspiratif News

Saat Rasulullah Maafkan Sahabat yang Berkhianat dalam Fathu Makkah
Views: 2093
Read Time:2 Minute, 48 Second

Waktu Rasulullah Maafkan Sahabat yang Berkhianat dalam Fathu Makkah – Aspiratif News

Nabi Saw ialah orang yang full kasih sayang. Beliau tidak tidak suka orang yang memusuhinya. Tidak menyakiti orang yang berbuat buruk kepadanya. Juga tetap berbuat baik ke orang yang mencelanya.

 

Bahkan, ia memaafkan orang yang mengkhianatinya. Bagian pengkhianatan yang dimaafkan Nabi Muhammad ialah apa yang dikerjakan oleh seorang sahabat bernama Hathib bin Abi Balta’ah, sesaat sebelum kejadian pembebasan Makkah (Fathu Makkah). Yaitu membocorkan rahasia ummat Islam ke musuh.

 

Hathib bin Abi Balta’ah ialah bagian sahabat yang ikut berhijrah dari Makkah ke Madinah. Sama seperti kebanyakan sahabat Nabi lainnya, Hathib meninggalkan anak dan hartanya di Makkah.

 

Ia tercatat ikut dalam beberapa Pertempuran bersama-sama dengan Serdadu ummat Islam, termasuk dalam Perang Badar. Karena itulah, dia sedikit dari sahabat yang memperoleh julukan Ahlu Badr. 

 

Cerita berawal waktu ummat Islam tengah mempersiapkan alat-alat perang dan hendak membebaskan Kota Makkah dari tangan kaum kafir Quraisy karena mereka menabrak Perjanjian Hudaibiyah.

READ  Kementan Sanggup Kelola Produksi Pangan Secara Baik - Aspiratif News

 

Pada waktu itu, Hathib bin Abi Balta’ah mengirimkan surat ke kaum kafir Makkah Soal hal planning Nabi Muhammad yang tengah mempersiapkan Serdadu ummat Islam untuk menyerbu Makkah.

 

Hathib menitipkan surat tersebut ke seorang perempuan musyrik yang Datang dari Makkah ke Madinah bernama Sarah. Sarah ialah budak Abu Amr bin Shaifi bin Hasyim bin Abdu Manaf. Dia Datang ke Madinah untuk meminta sumbangan karena semua keluarganya dikalahkan ummat Islam pada waktu Perang Badar. 

 

Singkat cerita, Nabi Muhammad mengetahui surat tersebut sesudah diberitahu malaikat Jibril. Tentu saja Nabi dan sahabat yang mengetahui hal itu jadi geram. Akan tetapi beliau sanggup menahan emosi dan amarah.

 

Beliau kemudian memperlihatkan surat tersebut ke Hathib dan meminta penjelasan darinya. Apa maksud dari surat tersebut. Mendadak itu, Hathib meminta agar Nabi tidak terburu-buru menghakiminya. Ia kemudian menerangkan maksud dan maksud dari dikirimkannya surat tersebut.

 

“Sesungguhnya saya ialah seorang yang terikat perjanjian dengan Quraisy tengah saya bukan bagian Famili dari mereka. Sementara orang-orang yang bersama-sama Anda dari kalangan Muhajirin, mempunyai kerabat dari Makkah tempat Famili mereka akan menjaga diri dan harta mereka,” Jelas Hathib, dalam Nabi Sang Penyanyang (Raghib as-Sirjani, 2014).

READ  Kesedihan yang Dialami oleh Santri Tatkala Wafatnya Mbah Umar - Warta Batavia

 

“Saya ingin waktu saya sudah tidak mempunyai nasab anak cucu di tengah-tengah mereka ada yang yang saya jadikan dari mereka orang yang akan menjaga kerabatku. Tidaklah saya melakukan ini karena kufur, tidak juga karena meninggalkan Islam dan juga bukan karena ridha dengan kekafiran sesudah saya menerima Islam,” lanjutnya.

 

Nabi Muhammad menerima penjelasan Hathib tersebut. Beliau mengampuni dan memaafkannya. menurutnya, apa yang dikatakan Hathib tersebut ialah benar adanya. Akan tetapi, sejumlah sahabat yang mengetahui Perkara tersebut tetap saja tidak terima dengan argumentasi yang diberikan Hathib.

 

Bahkan, Sayyidina Umar bin Khattab meminta izin ke Nabi Muhammad untuk memenggal kepala Hathib. Nabi cepat mencegah Umar dan Mengingatkan bahwa Hathib ialah Ahlu Badr. 

 

“Tahukan engkau, bahwa Allah sudah membebaskan para pejuang Perang Badar, yaitu Dia berfirman; Berbuatlah sesuka Anda seluruh, sungguh Saya telah mengampuni Anda seluruh,” kata Nabi Muhammad. 

 

Begitulah perangai agung Nabi Muhammad. Beliau bahkan memaafkan Hathib yang membocorkan planning penyerbuan Serdadu ummat Islam ke Makkah, sesudah mendengarkan penjelasan dan klarifikasi darinya.

READ  Bendung Radikalisme, Kemhan-PBNU Bentuk DKN

 

Suatu informasi yang amat penting karena dapat mempengaruhi keamanan dan keamanan Serdadu ummat Islam di medan perang. Beruntungnya, surat tersebut diketahui oleh Nabi Muhammad. Dan pada akhirnya, Makkah berhasil dibebaskan dengan tanpa ada pertumpahan darah. 

 

Penulis: Muchlishon Rochmat

Editor: Fathoni Ahmad

Waktu Rasulullah Maafkan Sahabat yang Berkhianat dalam Fathu Makkah – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *