Nasir-Abbas-696x391.jpg

Waspadalah! Tokoh Eks Jamaah Islamiyah Bongkar Tiga Cara Mudah Merekrut Remaja Menjadi Teroris

Diposting pada

Mantan pejabat senior Jemaah Islamiyah, Nasir Abbas mengatakan, ada tiga pertanyaan yang sangat memudahkan remaja menjadi teroris. Menurut pengakuan Nasir Abbas, dirinya sudah menjadi teroris sejak remaja, yakni di usia 18 tahun.

“Padahal, remaja adalah yang paling mudah terpengaruh dan mudah direkrut,” kata Nasir Abbas saat bersaksi pengalamannya sebagai teroris di hadapan ribuan wali di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (1/8). . / 2019).

Menurutnya, anak muda yang telat menuntut ilmu agama sangat rawan terjangkit radikalisme. Karena ilmu agama mereka masih sangat dangkal.

“Pada tahun 1987 saya dikirim ke zona konflik di Afghanistan ketika saya berusia 18 tahun,” kata Nasir Abbas, sambil mengatakan bahwa dia diajari cara menggunakan senjata dan menanam bom di Afghanistan. Sejak itu dia menjadi teroris yang ditugaskan ke berbagai negara dengan nama dan identitas yang berubah.

Nasir Abbas kemudian mencontohkan metode dan strategi teroris dalam merekrut calon-calon anggota baru, khususnya remaja yang mendalami agama Islam.

Baca Juga :  Menlu Rusia: Keluar dari JCPOA Bukti AS Tak Becus Bernegosiasi

“Cobalah untuk menjawab para siswa ..
“Lebih baik dari Al-Quran dan Pancasila,” Nasir Abbas bertanya kepada santri Amanatul Ummah yang memenuhi Masjid Agung KH Abdul Chalim. Murid-murid itu langsung menjawab: “Al-Quran…”.

Nasir Abbas kemudian menanyakan pertanyaan lain,

“Apa yang terbaik dari Nabi Muhammad dan Pak Jokowi.” Para siswa segera merespon,
“Nabi Muhammad …”

“Mana yang lebih baik antara negara Islam dan negara yang tidak setia,” Nasir Abbas bertanya lagi.
Para siswa menjawab: “Negara Islam”.

“Maka dengan respon ini mahasiswa langsung terpengaruh dan masuk jaringan teroris,” kata Nasir Abbas. Mengapa..???

“Karena tidak perlu menjawab pertanyaan seperti itu karena levelnya tidak sama. Ini pertanyaan yang salah. Masak Alquran melawan Pancasila. Bagaimana Nabi Muhammad bisa dibandingkan dengan Pak Jokowi, ”kata Nasir Abbas.

Namun inilah strategi para teroris untuk mengelabui dan menjebak mangsanya, terutama untuk menangkap anggota teroris baru. Dengan tanggapan tersebut, kata Nasir Abbas, teroris kemudian mengembangkan doktrin.

“Kalau Al-Quran lebih baik ganti Pancasila dengan Alquran. Kalau negara Islam lebih baik dari negara kafir, kita ganti negara Pancasila yang kafir dengan negara Islam. Kalau itu lebih baik untuk Nabi Muhammad, Kita ganti Jokowi. Tujuannya untuk “membenci Pak Jokowi,” kata Nasir Abbas.
Saat itulah otak seorang anak mulai membasuh secara tidak sadar. Ngeri .. !!!

Baca Juga :  Presiden Jokowi Cabut Lampiran Perpres 10/2021 soal Miras

“Membandingkan sesuatu pasti sama. Misalnya Alquran dengan Taurat. Alquran dan Pancasila tidak sejajar, kata Nasir Abbas. Nabi Muhammad dan Pak Jokowi tidak sama.
Nabi Muhammad dipilih langsung oleh Allah, sedangkan Pak Jokowi dipilih oleh manusia, tambahnya.

Menurut Nasir Abbas, masih banyak jebakan lain yang dikembangkan teroris. “Oleh karena itu, jika siswa mendapat pertanyaan seperti itu, jangan dijawab,” tanyanya.

Nasir Abbas mengatakan, saat ini teroris yang merekrut anggota baru tidak selalu bertatap muka atau bertatap muka. Mereka memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. “Bisa dibaca dan bisa lewat video,” kata Nasir Abbas.

Itu sebabnya dia meminta untuk mewaspadai semua kelompok radikal dan intoleran. Karena terorisme dimulai dari sikap intoleran dan tidak mau menghargai perbedaan antar bangsa dan budaya.

Menurutnya, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) juga sama. HTI bertujuan untuk mengubah Republik Indonesia menjadi kekhalifahan.

“Meski saat ini HTI tidak terlibat dalam kekerasan, mereka berusaha merekrut anggota polisi, TNI, yang nantinya akan mereka gunakan untuk melakukan kekerasan,” katanya.

Baca Juga :  [Video]: Pasukan Suriah Rontokkan Rudal Israel

Nasir Abbas mengaku bersyukur bisa ditangkap polisi setelah bertahun-tahun melakukan terorisme. Dia belajar dari pelajarannya dengan mengetahui bahwa dia memiliki kesalahpahaman dalam agama.

Untuk itu, ia meminta agar pengurusnya cerdas dalam memahami agama agar tidak terjerumus ke paham radikalisme dan terorisme seperti yang dialami olehnya.

Sumber: FB Nasir Abbas

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *